LIVE
Kajian Subuh — Manhaj Salaf
Pasaman FM · 101.9 MHz
Berita & Info

Gempa M 7,7 NTT dan Tsunami 1,61 Meter, BMKG Prediksi Gempa Susulan Berlanjut hingga 3 Minggu

Redaksi Radio Pasaman FM · 15 Agustus 2026, 12.46 WIB

0 0 1 menit baca
Gempa M 7,7 NTT dan Tsunami 1,61 Meter, BMKG Prediksi Gempa Susulan Berlanjut hingga 3 Minggu

Berita Radio Pasaman FM - Aktivitas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berlanjut setelah gempa dangkal berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah tersebut. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 235 kali gempa bumi susulan atau aftershocks.

Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. BMKG menyebut proses peluruhan alami aktivitas seismik membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu sebelum kondisi kembali stabil.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pemantauan terhadap pergerakan sesar terus dilakukan secara real time. Perkiraan durasi aktivitas tersebut didasarkan pada karakteristik wilayah serta histori kegempaan di kawasan tersebut.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Tsunami Mencapai 1,61 Meter

Gempa yang sebelumnya tercatat M 7 kemudian dimutakhirkan menjadi M 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Karena tergolong gempa dangkal, guncangan tersebut menimbulkan dampak cukup berat sekaligus memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir.

Sistem pemantauan gempa BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi. Parameter gempa kemudian dimutakhirkan sekitar 10 menit setelah kejadian, ketika data yang diperoleh dinilai semakin stabil dan presisi.

Hasil pemantauan muka air laut menunjukkan tsunami mencapai sejumlah kawasan pesisir. Gelombang tertinggi tercatat di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur, dengan ketinggian mencapai 1,61 meter.

Gelombang juga terpantau di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter. Sementara itu, Bulukumba dan Sape, Bima, mencatat gelombang lebih dari 0,5 meter.

BMKG mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut menunjukkan kondisi telah kembali aman.

Dalam pengujian sistem running model multi-skenario, tingkat ancaman tsunami dibagi menjadi kategori Siaga untuk potensi gelombang 0,5 hingga 3 meter dan Waspada untuk potensi ketinggian di bawah 0,5 meter.

Bersumber dari Flores Back Arc Thrust

Gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas Flores Back Arc Thrust, atau sesar naik busur belakang Flores.

Struktur sesar ini memiliki sejarah panjang gempa merusak. Salah satunya adalah gempa berkekuatan M 7,8 pada kedalaman 28 kilometer yang melanda kawasan tersebut pada 1992.

Perbedaan utama dengan gempa kali ini terletak pada kedalamannya. Gempa terbaru terjadi jauh lebih dangkal sehingga guncangannya menimbulkan kerusakan fisik yang relatif berat dan memicu tsunami yang terobservasi hingga wilayah pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan peta intensitas guncangan, skala terbesar mencapai VII MMI di Aesesa, Kabupaten Nagekeo; Riung, Kabupaten Ngada; Kota Ambai; serta berdasarkan hasil observasi mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng.

Sementara itu, skala VI MMI tercatat di Wolowae, Nagekeo dan Kota Bajawa. Guncangan skala V MMI dirasakan di sejumlah wilayah lainnya.

Pemetaan Wilayah untuk Rekonstruksi

Untuk mendukung pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei mikrozonasi dan makroanalisis.

Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo serta sejumlah titik rawan lainnya di Pulau Flores.

Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik tanah dan responsnya terhadap guncangan gempa. Hasil analisis lapangan nantinya menjadi salah satu rujukan teknis dalam proses rekonstruksi maupun penguatan bangunan agar lebih tahan terhadap gempa.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar hanya menggunakan informasi kebencanaan yang berasal dari sumber resmi. Sistem pemantauan kegempaan nasional saat ini ditopang lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf yang tersebar di seluruh Indonesia.

Masyarakat diminta tidak mudah terpancing informasi atau hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diimbau menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa serta terus memantau perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG.

Penanganan dampak bencana terus dikoordinasikan bersama BNPB, Basarnas, TNI-Polri dan pemerintah daerah untuk mendukung proses tanggap darurat hingga pemulihan wilayah terdampak. (Sumber Detik.com)

Belum Ada Komentar

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

Pasaman FM
BerandaJadwalProgramBeritaTentang KamiPartnershipKontak
Dengarkan Sekarang