LIVE
Kajian Subuh — Manhaj Salaf
Pasaman FM · 101.9 MHz
Berita & Info

Era Media Baru: Ketika Siapa Saja Bisa Menjadi Media

Redaksi Radio Pasaman FM · 3 September 2026, 06.46 WIB

0 0 1 menit baca
Era Media Baru: Ketika Siapa Saja Bisa Menjadi Media

Perubahan besar sedang terjadi dalam dunia media. Jika sebelumnya televisi, radio, dan surat kabar menjadi pintu utama masyarakat untuk memperoleh informasi, kini internet telah mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi.

Sebuah jurnal berjudul The New Media Operating System (NMOS): A Synthesis Model of Deconglomeration, Decentralization, and Demassification in the New Media Communication Domain yang ditulis oleh Dr. Prabu Revolusimencoba menjelaskan perubahan tersebut melalui sebuah model bernama New Media Operating System (NMOS).

Model ini menjelaskan bagaimana media baru bekerja di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.

Di Indonesia, perubahan pola konsumsi media terlihat dari meningkatnya penggunaan internet, sementara waktu masyarakat dalam mengonsumsi televisi mengalami penurunan. Pada saat yang sama, jumlah media online tumbuh secara signifikan.

Data yang digunakan dalam penelitian menunjukkan jumlah media online terdaftar di Indonesia meningkat dari sekitar 300 pada 2010 menjadi lebih dari 50.000 pada 2023.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa dunia media tidak lagi hanya menjadi ruang bagi perusahaan besar.

Kini, individu, komunitas, kelompok kecil, hingga masyarakat di daerah memiliki kesempatan untuk membangun media sendiri melalui internet.

Katika Media Tidak Lagi Hanya Milik Perusahaan Besar

Pada masa media konvensional, membangun sebuah media membutuhkan modal dan infrastruktur yang besar.

Surat kabar membutuhkan mesin cetak dan jaringan distribusi. Televisi membutuhkan pemancar, infrastruktur penyiaran, serta perizinan. Kondisi tersebut membuat kepemilikan media lebih banyak berada di tangan perusahaan besar.

Internet mengubah keadaan tersebut.

Saat ini, seseorang dapat membuat kanal YouTube, podcast, portal berita, atau media komunitas dengan modal yang jauh lebih kecil dibandingkan mendirikan media konvensional.

Perubahan ini disebut dalam jurnal sebagai dekonglomerasi, yaitu melemahnya dominasi relatif perusahaan media besar dalam ekosistem media.

Bukan berarti perusahaan media besar hilang, tetapi mereka kini tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang mampu memproduksi dan mendistribusikan informasi kepada masyarakat.

Media Semakin Menyebar hingga ke Daerah dan Komunitas

Perubahan kedua disebut sebagai desentralisasi.

Jika sebelumnya pusat produksi informasi banyak berada di kota-kota besar dan perusahaan media nasional, kini media dapat berkembang dari berbagai wilayah dan komunitas.

Portal berita daerah, kanal YouTube regional, podcast lokal, media keagamaan, media komunitas, hingga kanal yang membahas bidang tertentu menjadi bagian dari ekosistem baru tersebut.

Media tidak lagi harus memiliki kantor besar di pusat kota untuk menjangkau audiens.

Dengan koneksi internet dan akses terhadap platform digital, sebuah media dapat tumbuh dari daerah dan membangun audiensnya sendiri.

Dalam penelitian tersebut, media baru yang berkembang di Indonesia dibagi ke dalam beberapa kelompok, di antaranya media berbasis lokal, komunitas, hobi, serta media yang fokus pada topik atau keahlian tertentu.

Media lokal dapat melayani kebutuhan informasi masyarakat di wilayah tertentu. Media komunitas dapat melayani kelompok dengan identitas atau kepentingan yang sama. Sementara media berbasis hobi dan keahlian dapat memberikan informasi yang lebih spesifik dan mendalam kepada audiens tertentu.

Audiens Tidak Lagi Menjadi Satu Massa Besar

Selain dekonglomerasi dan desentralisasi, perubahan besar lainnya adalah demasifikasi.

Pada masa media konvensional, sebuah media berusaha menjangkau sebanyak mungkin masyarakat.

Satu program televisi, misalnya, dibuat agar dapat ditonton oleh audiens yang luas.

Namun, pola tersebut berubah di era digital.

Audiens kini terbagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan minat dan kebutuhan.

Ada audiens yang mencari konten dakwah, otomotif, olahraga, makanan, kesehatan, hukum, ekonomi, pendidikan, musik, hingga permainan.

Perubahan ini membuat media yang fokus pada bidang tertentu memiliki peluang untuk berkembang.

Alih-alih berusaha melayani semua orang, media dapat membangun audiens yang lebih spesifik dan memiliki minat yang sama.

Jurnal tersebut menilai kondisi ini sebagai salah satu kekuatan utama media baru.

Lima Sistem yang Menggerakkan Media Baru

Untuk menjelaskan bagaimana media baru dapat berkembang, penelitian ini memperkenalkan lima mekanisme utama dalam NMOS.

Kelima mekanisme tersebut saling berhubungan dan menjadi bagian dari cara kerja media di era digital.

1. Algoritma Menjadi Penentu Visibilitas

Dalam media konvensional, editor memiliki peran penting dalam menentukan informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat.

Di media digital, peran tersebut sebagian besar telah berubah.

Platform menggunakan algoritma untuk menentukan konten apa yang akan muncul di hadapan pengguna.

Algoritma mempelajari berbagai aktivitas pengguna, seperti konten yang ditonton, disukai, dibagikan, maupun durasi interaksi.

Dari data tersebut, platform memberikan rekomendasi konten yang dianggap sesuai dengan minat pengguna.

Sistem ini memberikan peluang bagi media kecil dan kreator independen untuk menjangkau audiens tanpa harus memiliki jaringan distribusi besar.

Konten yang membahas topik tertentu dapat ditemukan oleh orang-orang yang memang memiliki ketertarikan terhadap topik tersebut.

Namun, jurnal tersebut juga mencatat bahwa algoritma dapat menimbulkan persoalan.

Konten dalam bahasa daerah, dialek tertentu, atau konten yang melayani kelompok kecil berpotensi mengalami kesulitan memperoleh jangkauan jika sistem lebih mengutamakan konten dengan tingkat interaksi tinggi.

2. Perhatian Menjadi Sumber Ekonomi

Dalam media digital, perhatian masyarakat menjadi salah satu sumber ekonomi utama.

Semakin lama seseorang menonton, membaca, mendengarkan, atau berinteraksi dengan sebuah konten, semakin besar peluang konten tersebut menghasilkan nilai ekonomi.

Fenomena ini disebut sebagai attention economy atau ekonomi perhatian.

Media digital tidak hanya bersaing untuk menyampaikan informasi, tetapi juga bersaing untuk mendapatkan perhatian audiens.

Kondisi tersebut membuat keterlibatan audiens menjadi sangat penting.

Media yang memiliki komunitas kuat dan audiens yang loyal memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Namun, sistem ini juga menciptakan tekanan bagi kreator dan media untuk terus menghasilkan konten agar tetap memperoleh perhatian publik.

Audiens Kini Juga Menjadi Kreator

Salah satu perubahan paling mendasar dalam media baru adalah munculnya konsep prosumer.

Istilah ini menggambarkan seseorang yang dapat menjadi konsumen sekaligus produsen konten.

Seorang penonton YouTube dapat membuat kanal sendiri. Pendengar podcast dapat memproduksi podcast. Pengguna media sosial dapat menjadi pembuat informasi.

Batas antara produsen dan konsumen media yang selama ini sangat jelas dalam sistem media konvensional mulai menghilang.

Menurut model NMOS, prosumer menjadi salah satu mekanisme utama yang memungkinkan berkembangnya media baru.

Seseorang tidak lagi membutuhkan stasiun televisi, mesin cetak, atau pemancar radio untuk menjadi bagian dari ekosistem media.

Internet dan platform digital telah membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk memproduksi dan menyebarkan konten.

Setiap Aktivitas Digital Menjadi Data

Mekanisme berikutnya adalah datafication atau proses mengubah aktivitas manusia di dunia digital menjadi data.

Apa yang ditonton, diklik, disukai, dicari, dan dibagikan oleh pengguna dapat menjadi data yang dianalisis.

Data tersebut membantu platform dan media memahami perilaku audiens.

Bagi media kecil, ketersediaan data memberikan peluang yang sebelumnya lebih banyak dimiliki oleh perusahaan besar.

Media kini dapat mengetahui konten seperti apa yang diminati audiens dan bagaimana perilaku pengguna terhadap konten yang diproduksi.

Namun, penggunaan data juga membawa persoalan lain.

Semakin banyak aktivitas pengguna dikumpulkan dan dianalisis, semakin besar pula perhatian terhadap persoalan privasi dan penggunaan data pribadi.

Platform Menjadi Pengatur Baru

Mekanisme terakhir dalam NMOS adalah platform governance atau tata kelola platform.

Media baru sangat bergantung pada platform digital untuk mendistribusikan konten.

YouTube, TikTok, Instagram, Meta, dan Spotify menjadi ruang utama bagi banyak kreator dan media untuk menjangkau audiens.

Namun, platform tersebut juga memiliki aturan sendiri.

Platform dapat menentukan kebijakan konten, sistem monetisasi, bentuk pelanggaran, moderasi, hingga pembatasan akun.

Kondisi ini membuat kreator dan media memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap kebijakan platform.

Platform dapat membuka peluang besar bagi media kecil untuk menjangkau masyarakat.

Namun, di sisi lain, perubahan algoritma atau kebijakan dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan sebuah media atau kreator.

Media Baru Bekerja dalam Satu Sistem yang Saling Terhubung

Kelima mekanisme dalam NMOS tidak berjalan sendiri-sendiri.

Aktivitas pengguna menghasilkan data. Data tersebut membantu algoritma memahami perilaku audiens.

Algoritma kemudian menentukan konten yang memiliki peluang lebih besar untuk dilihat pengguna.

Ketika sebuah konten mendapatkan perhatian, muncul peluang ekonomi.

Peluang tersebut kemudian mendorong lebih banyak orang untuk menjadi kreator dan menghasilkan konten baru.

Konten baru kembali menghasilkan data dan memperkuat sistem algoritma.

Seluruh proses tersebut berlangsung dalam aturan dan kebijakan yang ditetapkan oleh platform.

Dengan kata lain, media digital saat ini bergerak dalam satu sistem yang saling berkaitan antara konten, audiens, data, algoritma, perhatian, kreator, dan platform.

Platform Bukan Media, tetapi Infrastruktur Distribusi

Salah satu gagasan penting dalam jurnal ini adalah cara memandang platform digital.

Penulis berpendapat bahwa platform seperti YouTube, TikTok, Instagram, Meta, dan Spotify pada dasarnya berfungsi sebagai infrastruktur distribusi digital.

Dalam era media cetak, mesin cetak memungkinkan surat kabar mendistribusikan informasi.

Dalam era televisi, pemancar memungkinkan siaran menjangkau masyarakat.

Dalam era digital, platform menjadi infrastruktur yang memungkinkan media dan kreator menjangkau audiens.

Namun, penelitian tersebut juga mengakui bahwa platform tidak sepenuhnya pasif.

Algoritma dan kebijakan yang diterapkan platform memiliki pengaruh besar terhadap informasi yang dapat ditemukan dan dilihat masyarakat.

Karena itu, platform memiliki posisi yang sangat kuat dalam ekosistem media baru.

Peluang Besar bagi Media Lokal dan Komunitas

Perubahan ekosistem media digital membuka peluang besar bagi media lokal dan komunitas.

Media lokal dapat menyediakan informasi yang tidak selalu menjadi perhatian media nasional.

Media komunitas dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens.

Sementara media yang fokus pada hobi atau bidang tertentu dapat membangun audiens berdasarkan minat yang lebih spesifik.

Dalam konteks ini, ukuran perusahaan tidak lagi menjadi satu-satunya faktor penentu keberhasilan.

Kemampuan memahami audiens, membangun komunitas, menciptakan konten yang relevan, dan memanfaatkan sistem digital menjadi semakin penting.

Tantangan di Balik Perkembangan Media Digital

Meski membuka peluang besar, perkembangan media baru juga menghadirkan sejumlah tantangan.

Algoritma tidak selalu memberikan peluang yang sama kepada semua kreator. Media kecil atau konten yang menggunakan bahasa daerah dapat menghadapi kesulitan untuk memperoleh jangkauan.

Ekonomi perhatian juga menciptakan persaingan yang sangat ketat.

Tidak semua kreator memperoleh pendapatan yang stabil. Banyak kreator menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tuntutan untuk terus memproduksi konten.

Ketergantungan terhadap platform juga menjadi persoalan tersendiri.

Perubahan kebijakan, algoritma, atau sistem monetisasi dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan media dan kreator.

Selain itu, akses internet belum sepenuhnya merata.

Masyarakat di daerah pedesaan dan wilayah terpencil masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kesenjangan informasi tetap terjadi, meskipun media telah berkembang secara digital.

Kesimpulan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara media bekerja.

Media tidak lagi hanya dimiliki oleh perusahaan besar. Individu, komunitas, media lokal, dan kreator independen kini memiliki peluang untuk memproduksi serta menyebarkan informasi kepada masyarakat.

Perubahan tersebut terjadi melalui proses dekonglomerasi, desentralisasi, dan demasifikasi.

Model New Media Operating System (NMOS) menjelaskan bahwa media baru bekerja melalui lima mekanisme utama, yaitu algoritma, ekonomi perhatian, prosumer, datafication, dan tata kelola platform.

Kelima mekanisme tersebut membentuk sistem baru dalam dunia komunikasi.

Di era digital, keberhasilan media tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya perusahaan.

Kemampuan memahami audiens, menghasilkan konten yang relevan, membangun komunitas, memanfaatkan data, memahami cara kerja algoritma, serta beradaptasi dengan aturan platform menjadi faktor yang semakin menentukan.

Pada akhirnya, perkembangan media digital telah membuka ruang yang jauh lebih luas bagi siapa saja untuk menjadi bagian dari ekosistem media.

Namun, peluang tersebut juga hadir bersama tantangan baru, terutama terkait kekuatan algoritma, ketergantungan terhadap platform, ketidakpastian ekonomi kreator, persoalan data, serta kesenjangan akses digital.

Model NMOS memberikan gambaran bahwa media baru bukan sekadar media lama yang berpindah ke internet.

Media baru memiliki cara kerja, sistem distribusi, hubungan dengan audiens, serta struktur ekonomi yang berbeda dan terus berkembang mengikuti perubahan teknologi digital.

Belum Ada Komentar

Tinggalkan Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

Pasaman FM
BerandaJadwalProgramBeritaTentang KamiPartnershipKontak
Dengarkan Sekarang